Menyimak Holding BUMN Pertambangan dari Atas Kereta

Pagi,

Saat ini saya sedang travelling menuju kota Tegal di Jawa Tengah untuk urusan pekerjaan kantor. Saya terakhir kali ke Tegal tahun 2012, kangen juga dengan kuliner khas Tegal dan sekitarnya seperti nasi megono, sate kambing muda khas Tegal, dll.

Sate kambing muda khas Tegal

Perjalanan saya kali ini menggunakan kereta api Argo Muria yang berangkat dari stasiun Gambir. Kereta Api Indonesia menurut saya mengalami peningkatan pelayanan terhadap pelanggan yang cukup signifikan. Keretanya lebih bersih dan nyaman, jarang terlambat, dan sekarang sistem tiketnya sudah modern.

Foto di dalam rangkaian kereta

Well, pagi ini saya membuka Facebook saya dan saya membaca sebuah unggahan dari seorang netizen yang menurut saya cukup menggelitik saya untuk menulis. Apa sih isi unggahanya? Berikut saya tampilkan screenshootnya

Unggahan salah seorang netizen

Dalam unggahan tersebut disebutkannya bahwa Antam, Timah, dan Bukit Asam dilepas status perseronya. Hal ini sama artinya dengan mereka bukan BUMN lagi? Jangan berkesimpulan dulu, mari kita lihat lebih jauh lagi.

Memang benar 3 perusahaan itu sekarang statusnya adalah ex-BUMN dikarenakan saat ini pemilikan sahamnya dialihkan ke PT. Inalum. PT. Inalum sendiri merupakan BUMN yang 100% milik negara sehingga sama artinya 3 perusahaan di atas secara tidak langsung menjadi anak perusahaan dari sebuah holding BUMN.

Antam, Timah, dan Bukit Asam sejauh ini sudah melantai di bursa efek Indonesia dengan performa yang tidak buruk malah Bukit Asam saya kira sangat baik performanya tahun ini. Dalam kasus ini, pemerintah masih memiliki hak veto dalam RUPS 3 perusahaan tersebut.

Mengapa demikian?

Mengutip dari Detik.com, berikut kira-kira penjelasannya.

Salah satu artikel di detik.com


Pengamat BUMN yang juga pernah menjadi Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu menjelaskan, meski status BUMN luntur, ketiga eks BUMN tersebut masih tunduk dalam aturan BUMN. Sebab pemerintah masih memegang saham seri A atau saham dwi warna.

"Saham merah putih yang dimiliki langsung pemerintah yang memiliki hak veto terhadap keputusan RUPS. Sehingga sebenarnya walau berubah status menjadi anak perusahaan pengelolannya tetap sama seperti BUMN," tuturnya saat dihubungi detikFinance, Minggu (19/11/2017).

Mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 72 Tahun 2016, Antam, Timah dan PTBA nantinya akan diperlakukan setara dengan BUMN, sebab pemerintah masih memegang saham dwi warna.

Bagaimana sih performa 3 perusahaan itu sendiri?

Sektor pertambangan sendiri menjadi sektor penguat bursa efek Indonesia di tahun 2017 ini disamping sektor keuangan dan industri dasar.

Trend rebound industri pertambangan


Kita akan mulai lihat untuk PT. Bukit Asam yang mana merupakan salah satu korporasi besar di Indonesia yang bergerak di bidang batubara.

Chart PT Bukit Asam di IHSG per 17 Nov 2017

Bisa dibilang saat ini Bukit Asam sedang menikmati manisnya rebound performa setelah terjun cukup tajam sejak 2012. Hal ini seiring dengan meningkatnya harga batubara di pasar.

Fundamental Bukit Asam per 17 Nov 2017

Dilihat dari segi fundamental juga Bukit Asam masih sangat baik dimana PER nya menyentuh angka 7 dengan DER hanya 0.5.

Buat yang masih awam dengan PER dan DER, apasih mereka itu?

PER atau Price Earning Ratio adalah alat utama dalam perhitungan harga saham suatu perusahaan dibandingkan dengan pendapatan perusahaan. PER yang dianggap baik biasanya bernilai >10.

DER atau Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat penggunaan utang terhadap total shareholder equity yang dimiliki perusahaan. DER dianggap baik bila nilainya >1.

Dengan harga di kisaran Rp. 11 ribu per lembar Bukit Asam menjadi salah satu emiten saham pertambangan yang seksi tahun ini. Selain trend yang baik, data fundamentalnya juga oke.

Bagaimana dengan Antam?

Antam sendiri adalah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan. Produknya yang paling terkenal tentu saja emas batangan Antam, yang oleh sebagian orang dijadikan obyek investasi.

Chart Antam di IHSG per 17 Nov 2017

Antam berdasarkan foto di atas mencapai puncak trend di IHSG pada 2008 dan saat ini sedang mengalami pelemahan. Tapi jangan khawatir, selama emas masih menjadi komoditas dunia, seharusnya Antam akan baik-baik saja.

Fundamental ANTM di IHSG per 17 Nov 2017

Well, DER Antam bagus di angka 0.65 dan sales volumenya di kuartal ini meningkat >30% seiring juga dengan net incomenya yang naik 102%. Menurut saya pribadi Antam tidak buruk performanya namun memang secara trend harga saham masih belum optimal.

Last but not least, yes.. si PT Timah.

Dari namanya saja pasti sudah dapat ditebak sektor usahanya adalah pertambangan dengan fokus di timah. PT. Timah sendiri melantai di bursa efek dengan singkatan TINS.

Chart PT. Timah di IHSG per 17 Nov 2017

Mirip dengan Antam, PT. Timah mencapai puncaknya di 2008 dan saat ini belum bisa menyamai titik tertingginya. Dengan harga Rp. 880 per lembar menurut saya harganya cukup value for money untuk para investor pemula yang memulai investasi saham dengan modal kecil.

Fundamental PT. Timah per 17 Nov 2017

Walau trend sahamnya tidak terlalu menggembirakan, namun sales dan net income PT. Timah tetap ciamik lho. Mungkin tidak seseksi Bukit Asam namun saya rasa performanya tidak buruk untuk dikoleksi.

So, sesungguhnya apa makna yang mau saya sampaikan dari post saya kali ini?

Analisa saham? Tentu bukan itu tujuan utamanya.

Saya mau sampaikan bahwa buat generasi millenials, dari pada jadi hater pemerintah, dimana tindakan itu menurut saya tidak produktif. Daripada koar-koar di sosial media "Jangan jual aset negara ke swasta/asing" dan demo berjilid-jilid.

Sebagai millenials yang berpikir ke depan, daripada saham 3 ex-BUMN itu dimiliki oleh swasta/asing, lebih baik kita sebagai WNI yang membelinya. Membeli saham ini sama halnya dengan tindakan bela negara yang nyata di dunia modern saat ini.

Harganya ga mahal kok, ada yang Rp 11 ribu, Rp 600an, dan Rp. 800an per lembar.

Sisihkan sedikit uang pulsa/mobile data buat investasi dan terlebih bila beli saham BUMN/ex BUMN secara langsung kita melindungi aset bangsa dari cengkeraman asing lho.

Mari kita sukseskan gerakan menabung saham dan mari kita jaga aset-aset bangsa.

Keep travelling, trading, and eating!!
B. Budhi Hufiantoro

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lets start to travelling, trading, and eating!!

Break Lebaran, Pastikan Portfolio Anda Aman