Si Millenial yang Kadang Khawatir Berinvestasi
Selamat malam dari Jogja,
Saya sedang di tanah kelahiran saya Yogyakarta, bertemu keluarga dan kedua anjing saya. Kebetulan anjing saya salah satunya sedang hamil tua dan diperkirakan akan melahirkan pertengahan bulan ini. Ini adalah pengalaman hamil yang kedua untuknya namun tetap saja galak dan terkadang manja.
Daaannn... ternyata malam ini melahirkan..
Hampir 2 minggu ini saya mendapatkan penugasan untuk field visit. Karawang, Tegal, Pemalang, Kediri, Tulungagung, Nganjuk, sampai Blitar kami jelajahi dalam 14 hari saya belakangan ini.
Setelah sekian lama banyak berkutat di balik meja di dalam tingginya gedung One Pacific Place, suatu kebahagiaan tersendiri bisa kembali ke lapangan. Saya dan rekan-rekan mencoba mencari insight dan masukkan langsung dari konsumen, terus nguber konsumen walau panas atau banjir menghadang istilahnya hehe.
Tidak disangka ternyata kota-kota kecil itu menyimpan begitu banyak kuliner lezat namun tetap bersahaja. Kita ambil contoh di Kediri ada pecel punten, di Tegal kami mencicipi sauto (soto tauco), di pemalang ada soto grombyang yang maknyus (btw, RIP untuk pak Bondan sang ikon kuliner Indonesia), sampai mabuk durian di kota Kediri (6 durian ukuran sedang dimakan bertiga) hahaha..
Di tengah asyiknya saya menjalani field visit, index IHSG menyentuh angka tertingginya di 6070an. Kabar gembira tentunya karena selain mencicipi nikmatnya kuliner saya sempat juga merasakan manisnya cuan BMRI dan BBNI.
Saya sempat share pengalaman saya di atas ke beberapa teman saya yang kebetulan masuk kategori karyawan millenial juga. Saya sempat tanya mereka "memainkan" uangnya di sektor apa? Dan coba tebak apa jawab mereka?
Tabungan.. iya, tabungan..
Sebelum itu, menurut pandangan saya sejauh ini setidaknya ada 4 kategori investasi yaitu :
1. Real Assets
Bisa dikatakan sebagai investasi yang paling kuno, mungkin investasi real assets adalah investasi zaman kakek nenek dan orang tua kita. Contoh: membeli tanah, membeli rumah untuk dikontrakkan, investasi di logam mulia dan lain sebagainya.
2. Paper Assets
Apa saja contoh produk paper asset? saham (bukti kepemilikan perusahaan), reksa dana, surat utang jangka pendek, surat utang jangka panjang (obligasi) dan lain sebagainya.
3. Bisnis
Investasi di penawaran-penawaran bisnis, seperti waralaba (franchise), jadi pemegang saham pasif (investor di perusahaan) dan lain sebagainya. Bisa juga dengan merintis bisnis sendiri
4. Digital Assests
Terungkaplah 4 alasan mereka mengapa sampai khawatir, yaitu :
1. Modal
Dibenak mereka masih ada anggapan bahwa untuk memulai investasi memerlukan modal besar sedangkan menurut mereka gaji mereka masih pas-pasan untuk memenuhi (gaya) hidup.
Saat ini sebenarnya sudah banyak investasi bermodal kecil semisal reksadana yang bisa diawali dengan setoran Rp.100.000 saja, nabung/nyicil emas, bahkan saham pun ada yang bisa dibeli di harga Rp 200/lembar.
2. Takut rugi
Memasuki dunia saham buat mereka menimbulkan ketakutan tersendiri dimana banyak berita-berita miring tentang trader yang bangkrut tanpa mereka pelajari lebih lanjut mengapa si trader bisa bangkrut.
Sebenarnya setiap investasi ada trendnya, ada disaat naik dan turun. Yang penting jangan panik dan tetap berpikiran dingin sehingga kemungkinan rugi bisa diminimalkan sebesar mungkin. Pelajari fundamental dari jenis investasi yang dipilih juga merupakan modal yang sangat berharga.
Saya sedang di tanah kelahiran saya Yogyakarta, bertemu keluarga dan kedua anjing saya. Kebetulan anjing saya salah satunya sedang hamil tua dan diperkirakan akan melahirkan pertengahan bulan ini. Ini adalah pengalaman hamil yang kedua untuknya namun tetap saja galak dan terkadang manja.
Foto Alice yang kandungannya semakin besar
Daaannn... ternyata malam ini melahirkan..
Video puppy-nya Alice yang baru lahir
Hampir 2 minggu ini saya mendapatkan penugasan untuk field visit. Karawang, Tegal, Pemalang, Kediri, Tulungagung, Nganjuk, sampai Blitar kami jelajahi dalam 14 hari saya belakangan ini.
Foto saat bertamu di rumah warga di Blitar
Setelah sekian lama banyak berkutat di balik meja di dalam tingginya gedung One Pacific Place, suatu kebahagiaan tersendiri bisa kembali ke lapangan. Saya dan rekan-rekan mencoba mencari insight dan masukkan langsung dari konsumen, terus nguber konsumen walau panas atau banjir menghadang istilahnya hehe.
Foto saat diskusi dengan konsumen di Nganjuk
Tidak disangka ternyata kota-kota kecil itu menyimpan begitu banyak kuliner lezat namun tetap bersahaja. Kita ambil contoh di Kediri ada pecel punten, di Tegal kami mencicipi sauto (soto tauco), di pemalang ada soto grombyang yang maknyus (btw, RIP untuk pak Bondan sang ikon kuliner Indonesia), sampai mabuk durian di kota Kediri (6 durian ukuran sedang dimakan bertiga) hahaha..
Foto saat mencicipi durian di Kediri
Saya sempat share pengalaman saya di atas ke beberapa teman saya yang kebetulan masuk kategori karyawan millenial juga. Saya sempat tanya mereka "memainkan" uangnya di sektor apa? Dan coba tebak apa jawab mereka?
Tabungan.. iya, tabungan..
Sebelum itu, menurut pandangan saya sejauh ini setidaknya ada 4 kategori investasi yaitu :
1. Real Assets
Bisa dikatakan sebagai investasi yang paling kuno, mungkin investasi real assets adalah investasi zaman kakek nenek dan orang tua kita. Contoh: membeli tanah, membeli rumah untuk dikontrakkan, investasi di logam mulia dan lain sebagainya.
2. Paper Assets
Apa saja contoh produk paper asset? saham (bukti kepemilikan perusahaan), reksa dana, surat utang jangka pendek, surat utang jangka panjang (obligasi) dan lain sebagainya.
3. Bisnis
Investasi di penawaran-penawaran bisnis, seperti waralaba (franchise), jadi pemegang saham pasif (investor di perusahaan) dan lain sebagainya. Bisa juga dengan merintis bisnis sendiri
4. Digital Assests
Digital assets boleh dibilang investasi zaman now yang lahir karena perusahaan teknologi finansial (financial technology) berkembang pesat. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.
Contoh produk digital assets : Peer to Peer Lending, Crypto currency (Bitcoin, Etherum, Litecoin dan lain sebagainya).
Setelah diskusi ngalor ngidul muter-muter, terkuaklah alasan mereka kenapa masih mengandalkan si old school tabungan ketimbang berinvestasi ke bentuk lain.Terungkaplah 4 alasan mereka mengapa sampai khawatir, yaitu :
1. Modal
Dibenak mereka masih ada anggapan bahwa untuk memulai investasi memerlukan modal besar sedangkan menurut mereka gaji mereka masih pas-pasan untuk memenuhi (gaya) hidup.
Saat ini sebenarnya sudah banyak investasi bermodal kecil semisal reksadana yang bisa diawali dengan setoran Rp.100.000 saja, nabung/nyicil emas, bahkan saham pun ada yang bisa dibeli di harga Rp 200/lembar.
2. Takut rugi
Memasuki dunia saham buat mereka menimbulkan ketakutan tersendiri dimana banyak berita-berita miring tentang trader yang bangkrut tanpa mereka pelajari lebih lanjut mengapa si trader bisa bangkrut.
Sebenarnya setiap investasi ada trendnya, ada disaat naik dan turun. Yang penting jangan panik dan tetap berpikiran dingin sehingga kemungkinan rugi bisa diminimalkan sebesar mungkin. Pelajari fundamental dari jenis investasi yang dipilih juga merupakan modal yang sangat berharga.
3. Takut resiko
Ada baiknya kita memahami arti resiko dan beresiko. Tiap hal di dunia ini memiliki resiko/kemungkinan yang diluar ekspektasi atau yang lebih kita kenal dengan beresiko. Yang paling penting adalah sejauh mana kita dapat mengontrol resiko tersebut.
Membiarkan hidup tanpa investasi yang jelas justru merupakan resiko yang paling besar bagi milenial.
4. Susah dicairkan sewaktu-waktu
Tidak semua investasi sulit dicairkan/diuangkan dalam waktu singkat. Untuk investasi real asset seperti tanah dan properti mungkin itu memang benar. Namun untuk emas, reksadana, saham, maupun bitcoin dapat dicairkan dalam hitungan jam atau hari saja.
Syukurnya tidak semua karyawan milenial seperti teman-teman saya itu. Beberapa sudah melek investasi dan berani mengambil resiko yang terukur untuk itu.
Singkat kata, dengan tidak memulai dari sekarang sama dengan menumpuk "luka" di penghujung usia.
Keep traveling trading and investing...
Salam
Membiarkan hidup tanpa investasi yang jelas justru merupakan resiko yang paling besar bagi milenial.
4. Susah dicairkan sewaktu-waktu
Tidak semua investasi sulit dicairkan/diuangkan dalam waktu singkat. Untuk investasi real asset seperti tanah dan properti mungkin itu memang benar. Namun untuk emas, reksadana, saham, maupun bitcoin dapat dicairkan dalam hitungan jam atau hari saja.
Syukurnya tidak semua karyawan milenial seperti teman-teman saya itu. Beberapa sudah melek investasi dan berani mengambil resiko yang terukur untuk itu.
Singkat kata, dengan tidak memulai dari sekarang sama dengan menumpuk "luka" di penghujung usia.
Keep traveling trading and investing...
Salam




Komentar
Posting Komentar